Kamis, 25 Agustus 2022
Salah satu salat wajib lima waktu yang mempunyai jumlah 4 rakaat adalah salat Ashar. Karena berada di penghujung hari, banyak yang suka mengakhirkannya dengan alasan lelah misalnya.
Padalah termasuk juga salat ashar, menurut hasil studi Asy-Syariah Journal UIN SGD dalam melaksanakannya, umat Islam tidak boleh asal-asalan, karena salat adalah ibadah yang telah ditentukan waktu dan caranya
Untuk waktu salat Ashar umumnya adalah saat panjang bayangan suatu benda sama dengan tinggi benda tersebut, hingga sampai terbenamnya matahari.
Ini berdasarkan keterangan dari jumhur ulama. Selain itu, dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ
Artinya: “Barangsiapa yang mendapati satu raka’at salat Ashar sebelum matahari tenggelam, maka ia telah mendapatkan salat Ashar.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan dari dalil ini oleh para ulama Syafi’iyah bependapat bahwa salat Ashar memiliki empat waktu sebagai berikut:
- Utama (waktu fadhilah), yaitu sampai panjang bayangan sama dengan dua kali panjang benda
- Boleh dan tidak makruh (waktu jawaz bi laa karohah), yaitu mulai ketika panjang bayangan telah dua kali panjang benda hingga matahari menguning
- Makruh (waktu karohah), yaitu mulai saat matahari menguning hingga mendekati tenggelam
- Haram (waktu tahrim), yaitu mengakhirkan waktu shalat hingga waktu yang tidak diperkenankan
Tata Cara Salat Ashar
Menurut jumhur ulama seperti Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah sebenarnya tidak ada lafadz khusus dalam niat salat.
Sebab niat berasal langsung dari hati, dan tanpa mengatakan pun sudah memiliki makna dikhususkan sesuai dengan hendak apa yang akan dilakukannya.
Tidak ada hadis yang mengatakan jika akan melaksanakan salat harus membaca niat. Namun jika dilakukan untuk lebih mendapatkan kekhuskan salat, beberapa lafaz niat salat Ashar ini bisa dilakukan:
Bacaan niat salat Ashar sendirian: Ushallii fardhazh-Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an lilaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Ashar sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”
Bacaan niat menjadi imam salat Ashar: Ushallii fardhazh-Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati imaaman lilaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Ashar sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, sebagai imam karena Allah Ta’ala.”
Bacaan niat menjadi makmum di salat Ashar: Ushallii fardhazh-Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati makmuuman lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Ashar sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, sebagai makmum, karena Allah Ta’ala.”
Untuk rakaat 1:
- Takbiratul Ihram
- Doa Iftitah
- Membaca Surat Al-Fatihah
- Membaca Surat Atau Ayat-Ayat dari Alquran
- Ruku
- I’tidal
- Sujud
- Iftirasy (Duduk di antara Dua Sujud)
- Sujud
Untuk rakaat 2, lakukan gerakan dan bacaan seperti pada rakaat pertama tetapi dilakukan tanpa doa Iftitah. Setelah sujud, dianjutkan dengan tasyahud awal, kemudian berdiri tegap dan membaca ‘Allahuakbar’ dan lanjut ke rakaat 3.
Untuk rakaat 3, lakukan seperti gerakan dan bacaan di rakaat pertama, tetapi dilakukan tanpa doa Iftitah dan langsung menuju gerakan ruku’ setelah membaca surat Al Fatihah.
Untuk rakaat 4, lakukan seperti gerakan dan bacaan di rakaat pertama, tetapi dilakukan tanpa doa Iftitah dan langsung menuju gerakan ruku’ setelah membaca surat Al Fatihah.
Dan setelah sujud yang ke dua, kemudian membaca doa tahiyat akhir dengan cara duduk tasyahhud (tahiyat) akhir. Dan diakhiri dengan salam.
Karena alasan masing-masing, sebagian kaum muslimin seringkali menunda-nunda melaksanakan salat Ashar hingga waktunya hampir habis, atau bahkan tidak mengerjakannya sama sekali.
Tentu saja hal ini bertentangan dengan perintah syariat untuk menjaga pelaksanaan semua salat wajib, termasuk salat Ashar. Dalam Alquran Allah SWT berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Artinya: “Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’.” (QS Al Baqarah: 238)
Menurut pendapat yang par ulama, yang dimaksud dengan ‘salat wustha’ dalam ayat ini adalah salat Ashar. Hal ini berdasarkan hadits dari Rasulullah SAW ketika terjadi perang Ahzab:
شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ
Artinya: “Mereka (kaum kafir Quraisy) telah menyibukkan kita dari salat wustha, (yaitu) salat Ashar.”
Terdapat hadis khusus yang menyebutkan pahala bagi orang yang menjaga salat Ashar, yaitu mendapatkan pahala dua kali lipat dan tidak akan masuk ke neraka.
Abu Bashrah al-Ghifari RA menceritakan: “Rasulullah SAW salat Ashar bersama kami di daerah Makhmash. Kemudian beliau bersabda:
«إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا، فَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ» وَالشَّاهِدُ النَّجْمُ
Artinya: “Sesungguhnya salat ini (salat Ashar) pernah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya.
Barangsiapa yang menjaga salat ini, maka baginya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada salat setelahnya sampai terbitnya syahid (yaitu bintang).”
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda:
لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
Artinya: “Tidak akan masuk neraka seorang pun yang mengerjakan salat sebelum matahari terbit (yakni salat subuh) dan sebelum matahari terbenam (yakni salat ashar).”
Semoga panduan tata cara salat Ashar ini dapat membantu umat Islam untuk lebih memperbaiki lagi salatnya dan menambah rasa khusyuk saat mengerjakannya.